Tampilkan postingan dengan label Buku Elektronik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku Elektronik. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Januari 2012

Berumah di Buku


Bandung Mawardi
AKTIVIS SASTRA

Orang-orang tergesa meramalkan masa depan buku (elektronik) sebelum rampung mengenangkan masa lalu buku (cetak). Umberto Eco, novelis asal Italia, mengaku sungkan membaca edisi buku elektronik karena bisa membuat mata rabun. Eco justru menghendaki terus menjalani ritus membaca buku cetak. Nostalgia, emosionalitas, sentimentalitas, dan aliran waktu kerap tersimpan di buku cetak. Eco mengandaikan diri menemukan buku masa kecil di gudang. Takjub, haru, dan keajaiban bakal teralami dalam tautan diri, buku, serta waktu. Eco (Tempo, 30 Oktober 2011) mengatakan, "Ada emosi bergerak di situ." 
Pemaknaan buku cetak oleh Eco ada di zaman kalap teknologi. Segala hal mengalami percepatan, perluasan, peringkasan, dan penggandaan oleh teknologi. Orang-orang mulai mendua untuk menerima buku dalam format cetak dan elektronik. Nalar teknologis memihak selebrasi buku elektronik dengan dalil pencanggihan medium, ruang, harga, tubuh, dan waktu. Puja teknologi melalui ejawantah buku elektronik memang mengagendakan selebrasi masif literasi di dunia, tapi perlahan bisa menghilangkan memori ajaib tentang manusia dan buku.