Bandung Mawardi
AKTIVIS SASTRA
Orang-orang tergesa meramalkan masa depan buku
(elektronik) sebelum rampung mengenangkan masa lalu buku (cetak). Umberto Eco,
novelis asal Italia, mengaku sungkan membaca edisi buku elektronik karena bisa
membuat mata rabun. Eco justru menghendaki terus menjalani ritus membaca buku
cetak. Nostalgia, emosionalitas, sentimentalitas, dan aliran waktu kerap
tersimpan di buku cetak. Eco mengandaikan diri menemukan buku masa kecil di
gudang. Takjub, haru, dan keajaiban bakal teralami dalam tautan diri, buku, serta
waktu. Eco (Tempo, 30 Oktober 2011) mengatakan, "Ada emosi bergerak
di situ."
Pemaknaan buku cetak oleh Eco ada di
zaman kalap teknologi. Segala hal mengalami percepatan, perluasan, peringkasan,
dan penggandaan oleh teknologi. Orang-orang mulai mendua untuk menerima buku
dalam format cetak dan elektronik. Nalar teknologis memihak selebrasi buku
elektronik dengan dalil pencanggihan medium, ruang, harga, tubuh, dan waktu.
Puja teknologi melalui ejawantah buku elektronik memang mengagendakan selebrasi
masif literasi di dunia, tapi perlahan bisa menghilangkan memori ajaib tentang
manusia dan buku.